Berita
23 Feb 2024 08:46:33
Admin
Jombang, Jum'at. 23 Pebruari 2024 Berdasarkan pengertian Gerakan Literasi Sekolah (GLS) oleh Kemendikbud . 2016, aktivitas literasi bisa berupa membaca, menulis, melihat, menyimak dan atau berbicara. Sesuai dengan kondisi di SLB Tunas Harapan II Peterongan, Gerakan Literasi Sekolah (GLS) lebih menekankan pada aktivitas literasi berbicara. Dimana aktivitas literasi ini dilakukan setiap pagi di sekolah. Pembiasaan ini dilakukan pagi hari sebelum melakukan aktivitas pembelajaran.
Tidak mudah membuat balita paham mengapa ia perlu sarapan. Tapi, bukan berarti balita tidak bisa dibuat jadi paham. Butuh upaya lebih cerdik, keterampilan sambung nalar – yang tidak cukup hanya dengan membujuk. Prinsipnya, balita pun makhluk hidup yang bisa belajar dari pengalaman. Tinggal masalahnya, proses usai makan tidak berlanjut. Makanya ia tak pernah paham. Tergantung Kita Hari Ini Hal yang sama dengan membuat perilaku terpaksa bisa diinternalisasikan menjadi kebiasaan dan budaya baru. Hal-hal yang tadinya perlu dilakukan dengan sadar, akhirnya menjadi perilaku otomatis. (Bestari Kumala Dewi, 3 Juni 2020).
Tidaklah mudah memang, meninggalkan kebiasaan yang kurang baik, dimana kebiasaan ini bahkan sudah tertanam menjadi budaya bagi kita. Frasa yang berbunyi “ Dipaksa, Terpaksa, Lalu Bisa, Kemudian Biasa hingga Jadi Budaya” sangat cocok digunakan dalam menerapkan budaya literasi pagi yang kepala sekolah terapkan. Budaya ini sudah berjalan selama 1 tahun lebih dari bulan Juli 2022 hingga sekarang.
BUDAYA LITERASI PAGI ini diterapkan bukan tanpa hambatan atau tantangan. Karena memang sejatinya untuk mebiasakan hal baik untuk menjadi budaya di sekolah tidak bisa berjalan dengan mulus. Tantangan atau hambatan yang kepala sekolah hadapi diantaranya adalah masih ada beberapa guru yang membuthkan beberapa waktu untuk membiasakan diri untuk displin waktu, bukan hanya guru namun hal ini juga diikuti oleh peserta didik. Bagi peserta didik sendiri, kami juga harus memberikan pengertian kepada orangtua, dikarenakan mayoritas peserta didik di sini tidak berangkat sendiri alias diantar oleh irangtua nya. Sehingga secara otomatis, kita bukan hanya memberikan pengertian kepada peserta didik tapi juga termasuk orangtua.
Selain tantangan atau hambatan yang kepala sekolah alami diatas, tidak ada halangan yang berarti saat menerapkan budaya literasi pagi ini, hal ini didukung oleh semua lapisan komponen sekolah yang mau bekerjasama untuk mewjudkan program yang sudah kepala sekolah susun ini. Tanpa adanya kerjasama yang baik antara guru, peserta didik serta orangtua murid, hal ini tidak akan bisa terwujud dan berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan.
09 Februari 2024
Admin
23 Februari 2024
Admin
Managed By ABK Istimewa
@2022 - 2026