Berita

Koneksi Antar Materi Modul 1.4 Budaya Positif – Kesimpulan dan Refleksi

19 Aug 2024 19:55:26

Admin

Image

Assalamualaikum wr wb

Saya Sichatul Afwa Calon Guru Penggerak angkatan 11 dari Kabupaten Jombang Jawa Timur pada kesempatan kali ini saya akan memaparkan koneksi antar materi modul 1.4 tentang budaya positif. Berikut adalah kesimpulan mengenai peran saya dalam menciptakan budaya positif di sekolah. Seorang guru yang baik harus memiliki kemampuan dalam mewujudkan budaya positif di sekolah. Budaya positif tersebut dapat dijalankan dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, Motivasi perilaku manusia, posisi control, rekonstruksi keyakinan sekolah atau kelas dan segitiga restitusi.

Disiplin positif merupakan suatu cara penerapan disiplin yang mengajarkan anak bertanggung jawab dan menumbuhkan kesadaran diri berdasarkan nilai-nilai Kebajikan. Disiplin positif lebih ke arah disiplin diri yang dapat mengontrol diri dalam melakukan segala tindakan disiplin diri, dapat membuat murid memahami dan menyadari berdasarkan motivasi internal bukan akibat paksaan pujian ataupun hukuman. Motivasi perilaku manusia terdapat tiga motivasi perilaku manusia diantaranya : untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain tiga untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai yang mereka percaya. Posisi kontrol restitusi terdapat 5 posisi kontrol restitusi diantaranya : Guru sebagai penghukum,  sebagai pembuat merasa bersalah, guru sebagai teman tempat, guru sebagai pemantau dan guru sebagai manajer.

Keyakinan sekolah atau kelas guru berperan dalam mewujudkan terbentuknya keyakinan sekolah atau kelas karena dengan adanya kesepakatan antara guru dan murid keyakinan sekolah atau kelas berupa pernyataan-pernyataan universal yang mudah diingat dan dipahami dan harus diterapkan di lingkungan sekolah. Adapun tahapan dalam segitiga restitusi meliputi :  menstabilkan identitas, validasi tindakan yang salah, menanyakan keyakinan. Dalam menstabilkan identitas dilakukan berdasarkan prinsip bahwa membuat kesalahan adalah bagian dari proses pembelajaran yang nantinya akan menggeser identitas gagal ke arah identitas sukses. Dalam validasi tindakan yang salah dilakukan berdasarkan prinsip bahwa setiap perilaku berupaya memenuhi suatu kebutuhan tertentu sehingga guru atau orang tua akan bergeser dari pemikiran pembuluh respon menjadi proaktif serta akan lebih mengenali dan mengakui kebutuhan murid atau anak dalam menanyakan keyakinan dilakukan dengan memberi pertanyaan-pertanyaan bermakna kepada Murid atau anak untuk memunculkan motivasi secara intrinsik sehingga mampu mengaitkan keyakinannya dengan tindakan yang salah.

Adapun keterkaitan antara materi budaya positif dengan 3 materi sebelumnya yaitu dengan menjalankan budaya positif di sekolah maka akan mempermudah dalam tercapainya tujuan pendidikan nasional sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu pendidikan yang berpihak pada murid dan bersifat menuntun. Selanjutnya Budaya  positif dapat terwujud jika seorang guru memiliki 5 Nilai guru penggerak diantaranya berpihak pada murid Mandiri, reflektif ,kolaboratif dan inovatif . Selain itu guru juga harus memiliki peran sebagai penggerak dalam membangun budaya positif di lingkungannya Salah satu perubahan yang diinginkan sesuai visi guru penggerak adalah terbentuknya budaya positif agar terciptanya sekolah yang nyaman aman dan berpihak pada murid sesuai filosofi Ki Hajar Dewantara dan profil pelajar Pancasila.

Image

1.  Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep inti yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: disiplin positif, teori kontrol,  teori motivasi, hukuman dan penghargaan, posisi kontrol guru, kebutuhan dasar manusia, keyakinan kelas, dan segitiga restitusi. Adakah hal-hal yang menarik untuk Anda dan di luar dugaan?

Makna kata ‘disiplin’ dimaknai menjadi sesuatu yang dilakukan seseorang pada orang lain untuk mendapatkan kepatuhan. Sebagai pendidik, saya cenderung menghubungkan kata ‘disiplin’ dengan ketidaknyamanan. Padahal disiplin merupakan sesuatu hal yang perlu ditanamkan pada diri setiap individu. Pada pokok bahasan lain banyak sekali informasi – informasi baru yang menyadarkan diri saya bahwa dalam mendidik anak terdapat nilai – nilai yang harus diterapkan dalam menciptakan budaya positif. Hal yang tak terduga selama mempelajari modul 1.4 yaitu terkait keyakinan kelas, selama ini saya hanya berpikir bahwa tidak ada suatu keyakinan namun hanya sebatas aturan kelas, ternyata dua hal tersebut merupakan sesuatu yang berbeda, keyakinan kelas merupakan suatu kesepakatan yang tidak tertulis namun dipahami oleh seluruh anggota kelas yang wajib dipatuhi tanpa perlu ada dorongan dari luar dan rasa itu muncul dari diri siswa sendiri. Pada materi segitiga restitusi kita diajarkan menyelesaikan kasus yang biasa terjadi di sekolah dengan tahapan dari menstabilkan identitas, memvalidasi tindakan yang salah dan menanyakan keyakinan, dimana selama ini saya hanya langsung menjatuhkan hukuman tanpa mengikuti langkah dari segitiga restitusi tersebut.

Informasi yang saya peroleh dari modul 1.4 linier dengan pemahaman pada materi sebelumnya, dimana untuk mewujudkan pemikiran KHD dapat menerapkan informasi dalam materi budaya positif, nilai dan peran guru penggerak dapat terwujud dengan dukungan dari penerapan budaya positif.

2.  Perubahan apa yang terjadi pada cara berpikir Anda dalam menciptakan budaya positif di kelas maupun sekolah Anda setelah mempelajari modul ini?

Adapun perubahan yang terjadi adalah Saya menyadari bahwa posisi kontrol yang biasa saya lakukan dalam menangani masalah murid selama ini kurang tepat Seharusnya saya harus memperhatikan kondisi setiap murid sehingga bisa memposisikan diri sebagai posisi kontrol yang tepat bagi murid. Bukan menilai posisi kontrol mana yang paling baik, namun menyesuaikan permasalahan yang ada, yang ditekankan adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran diri pada murid dalam melakukan hal-hal positif

3.  Pengalaman seperti apakah yang pernah Anda alami terkait penerapan konsep-konsep inti dalam modul Budaya Positif baik di lingkup kelas maupun sekolah Anda?

Di sekolah saya, telah berjalan program literasi pagi yang dilaksanakan setiap pagi sebelum masuk ke kelas. Dana ini sudah berjalan selama kurang lebihd dua tahun lamanya dan hingga sekarang berjalan dengan semakin baik. Mengawali program ini berjalan , baik dari guru, murid dan wali murid berkolaborasi. Namun bukan tanpa kendala. Kita memakai posisi kontrol menghukum awalnya, karena saat itu saya meyakini bahwa kebiasaan ini itu memang berasal dari terpaksa, terbiasa dan jadi budaya. Namun setelah tahu tentang modul ini, cara tersebut kurang tepat dalam penerapannya. Sehingga saat itu banyak juga yang terpaksa melakukan kebiasaan. Sehingga setelah adanya pencerahan dalam memberikan konsekuensi hingga restitusi pada siswa, hal ini menjadi Langkah yang cukup baik bagi saya dan guru lain dalam menerapkan keyakinan yang ada di sekolah

4.  Bagaimanakah perasaan Anda ketika mengalami hal-hal tersebut?

Perasaan saya saat itu, cukup senang dalam menerapkan ilmu-ilmu yang saya dapatkan pada modul 1.4 ini, sehingga dalam penanganan masalah murid lebih baik dalam menyikapinya.



Image

5.  Menurut Anda, terkait pengalaman dalam penerapan konsep-konsep tersebut, hal apa sajakah yang sudah baik? Adakah yang perlu diperbaiki?

Menurut saya sekolah saya sudah menerapkan budaya positif di sekolah, hal itu diwujudkan dengan kegiatan kegiatan budaya positif seperti literasi pagi yang sudah saya jelaskan di atas tadi. Namun perlu ada hal- hal yang perlu kembangkan lebih lanjut yaitu terkait sosialisasi nilai kebajikan yang harus dimiliki setiap anak serta keyakinan kelas, karena masih banyak guru dan murid belum memahami perbedaan keyakinan kelas dan aturan kelas.

6.    Sebelum mempelajari modul ini, ketika berinteraksi dengan murid, berdasarkan 5 posisi kontrol, posisi manakah yang paling sering Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda saat itu? Setelah mempelajari modul ini,  posisi apa yang Anda pakai, dan bagaimana perasaan Anda sekarang? Apa perbedaannya? 

Sebelum saya mempelajari modul posisi kontrol, posisi saya yang sering saya terapkan ketika berinteraksi dengan murid adalah sebagai penghukum dan pembuat rasa bersalah. Perasaan saya saat itu merasa 2 hal itu merupakan cara yang sudah benar dan terbaik karena selama ini semasa sekolah dan awal menjadi seorang pendidik hal tersebut sudah menjadi kebiasaan yang menjadi budaya. Selain itu cara yang saya terapkan kadang membuahkan hasil, terkadang gagal bahkan peristiwa yang sama terulang kembali alias bersifat sementara. Setelah mempelajari teori posisi kontrol posisi yang sering saya gunakan yaitu sebagi pemantau dan manager, namun tidak menutup kemungkinan menggunakan posisi control yang lain, tergantung permasalah yang ada. Yang saya rasakan syaitu saya menjadi lebih tenang, siswa lebih mudah menerima dan sadar tentang kesalahan yang dia perbuat sehingga siswa menjadi tergerak hatinya untuk berubah dari dalam dirinya sendiri, bukan dari paksaan atau rangsangan dari luar. Perbedaan yang paling menonjol yaitu tentang peristiwanya, jika kita memposisikan diri sebagai penghukum, maka perubahan siswa hanya bersifat sementara, sedangkan ketika kita memposisikan diri sebagai manager, maka siswa akan tergerak hatinya untuk berbuat dan memperbaiki kesalahan dan perubahan tersebut tidak bersifat sementara.

7.  Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan segitiga restitusi ketika menghadapi permasalahan murid Anda? Jika iya, tahap mana yang Anda praktekkan dan bagaimana Anda mempraktekkannya?

Pernah, namun mungkin tidak runtut dan tidak semua Langkah-langkah restitusi diterapkan, mungkin hanya pada menstabilkan identitas dan validasi tindakan yang salah saja.

8.  Selain konsep-konsep yang disampaikan dalam modul ini, adakah hal-hal lain yang menurut Anda penting untuk dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif baik di lingkungan kelas maupun sekolah?

 

Adapun hal lain yang penting dipelajari dalam proses menciptakan budaya positif adalah melakukan kolaborasi antara sekolah dan orang tua murid agar budaya positif ini jangan hanya dilakukan di kelas atau sekolah saja melainkan juga harus dilakukan di rumah agar menjadi suatu kebiasaan atau karakter yang melekat pada diri murid saat berada di lingkungan manapun dia berada.


Jombang, 13 Agustus 2024

SICHATUL AFWA

CALON GURU PENGGERAK ANGAKATAN 11

KABUPATEN JOMBANG

Tulis Komentar

Success! Komentar anda berhasil disimpan.
Warning! Isi nama anda dengan benar.
Warning! Silahkan isi komentar anda.

Lokasi Sekolah

Alamat

Jl. Baru Karya RT 02 RW 01 Dusun Mancar Timur Desa Mancar Kecamatan Peterongan Kabupaten Jombang

Email

slbtunasharapanii@gmail.com

Nomor Telepon

081333095639

Managed By ABK Istimewa
@2022 - 2026